Berjumpa dengan Pemenang Nobel Perdamaian dan 84 penghargaan international lainnya

By Joe Hartanto | Motivasi & Inspirasi

Sep 20

Hi teman teman semua, selamat kembali beraktivitas dan berprestasi kembali setelah sebagian besar dari kita menjalani bulan puasa yang me’recharge’ fisik serta spiritual kita. Serta menikmati liburan Lebaran dan bertemu serta bersilaturahmi dengan orangtua, handai taulan dan teman teman kita semua. Saya yakin kita semua pasti mengalami masa masa liburan yang penuh makna dan arti.

Bagi saya sendiri, liburan Lebaran kali ini saya jadikan sebagai momentum yang sangat berharga sekali untuk mewujudkan salah satu impian besar saya, yaitu untuk bertemu langsung dengan Dalai Lama. Siapa itu Dalai Lama?? Bagi teman2 yang belum mengenal sosok seorang Dalai Lama, ada baiknya saya jelaskan sedikit siapakah beliau?.

Dalai Lama atau tepatnya His Holiness the 14th Dalai Lama, yang nama kecilnya adalah Tenzin Gyatso, adalah seorang pemimpin spiritual Tibetan Buddhism yang terusir dari negaranya sendiri Tibet pada tahun 1959 dan hingga saat ini menetap di Dharamsala, India Utara. Beliau adalah seorang tokoh internasional berusia 75 tahun yang sangat dikagumi karena kebijaksanaannya dan kesederhanaannya, bahkan oleh para pengikutnya beliau terkadang dianggap sebagai seorang Buddha yang masih hidup. Di tahun 1989 beliau mendapat meraih penghargaan nobel perdamaian, kemudian juga menjadi orang pertama yang meraih nobel lingkungan hidup, dan 84 penghargaan internasional lainnya, seorang penulis 72 judul buku best seller internasional, telah mengunjungi 62 negara di 6 benua dan berdialog serta berteman dengan banyak presiden, raja, ratu, perdana menteri, pemimpin Negara serta tokoh tokoh penting internasional , berteman dengan selebritis internasional seperti Richard Gere dan Pierce Brosnan dan juga para professor dan ilmuwan terkenal dari seluruh dunia, jika anda ingin tahu lebih jauh siapa beliau, silakan tanya saja pada om goggle ya…..

Kekaguman saya pada Dalai Lama, berawal tahun 2001 setelah saya mengalami kebangrutan yang ke 2 kalinya, saat itu saya banyak membaca buku buku selfhelp, dan saat itulah saya menemukan salah satu bukunya yang berjudul “The Art of Happiness” di toko buku Gramedia.

Kemudian dilanjutkan dengan membaca buku beliau lainnya yang berjudul “An Open Heart” sewaktu saya bekerja di US. Pemikiran dan kebijaksanaan Dalai Lama dalam buku2nya tersebut, banyak merubah cara pandang saya dalam memaknai proses jatuh bangun kehidupan saya. Yang tadinya saya selalu menyalahkan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, setelah membaca pemikiran beliau, saya bisa menerima apapun kejadian yang terjadi dalam hidup saya dengan apa adanya, saya bisa lebih menerima diri saya sendiri, sehingga luka luka hati saya mulai sembuh dan saya mulai belajar bisa menerima kenyataan hidup. Karena ternyata jika dibandingkan dengan apa yang beliau alami, apa yang saya alami tidaklah ada apa apanya, beliau kehilangan negaranya di tahun 1959, beliau terusir dengan terpaksa dari negaranya sendiri dan harus hidup dalam pengungsian tergantung dari Negara lain, tapi beliau bisa menghadapi itu semua dan terus berkarya bagi orang lain. Sejak itulah kekaguman saya dengan beliau terus tumbuh, dan saat itu saya langsung punya keinginan bahwa suatu saat nanti saya akan bertemu dan belajar langsung dengan beliau.

Akhirnya setelah hampir 10 tahun mimpi saya berhasil terwujud, karena selama 3 hari, 8-9 September yang lalu saya bergabung dengan rombongan dari South East Asia (Singapore, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia) serta banyak Negara diluar South East Asia lainnya hadir dalam sesi pengajaran beliau di Namgyal Monastery, kediaman Dalai Lama di pegunungan Himalaya, India Utara. Yang terletak di sebuah kota kecil Dharamsala yang sangat nyaman berudara sejuk dikelilingi oleh hutan pinus dengan pemandangan pegunungan Himalaya yang sungguh luarbiasa, keramahan para penduduknya yang sebagian besar para pengungsi Tibet serta makanan Tibetnya yang luarbiasa enaknya….hmmmm, dan bertemu serta berkenalan dengan banyak teman baru dari banyak negara.

Sungguh sebuah pengalaman yang amat mengesankan, bisa bertemu, melihat langsung, berada dekat sekali dengan beliau, untuk belajar serta mendengarkan ajaran kebijaksanaannya. Kekaguman saya bertambah dalam …. manakala betapa dengan penghormatan yang sangat luarbiasa dari para pengikutnya dan prosedur keamanan yang sangat ketatnya, beliau dengan sangat tulus, rendah hati, menyalami, menyapa, tersenyum dengan para peserta di barisan depan, banyak diantara kita yang berlinang airmata haru, saat saat beliau hadir memasuki ruangan. Saya sendiri merasa amat beruntung karena di hari ke tiga saya berkesempatan untuk memegang dan bersalaman dengan beliau 2 kali, sebuah kesempatan yang sangat langka, ditengah banyaknya para peserta dari berbagai bangsa dan negara yang jumlahnya hampir mencapai 5000 orang. (Sayangnya karena keamanan yang amat sangat ketat, kami semua para peserta tidak ada yang diperbolehkan membawa kamera, video, hp, atau alat2 perekam lainnya) sehingga saya tidak tahu apakah panitia sempat mengambil foto2 saya sewaktu bersalaman dengan beliau, saya berharap sih demikian, mudah mudahan saja, that will be my very precious picture.

Ada sedikit benang merah antara apa yang beliau ajarkan dengan apa yang saya bahas di buku Property Cash Machine dalam bab awal mengenai pentingnya mindset seorang investor, saya menjelaskan bahwa, apabila kita ingin menjadi seorang investor yang berhasil, kita harus memiliki pola pikir seorang investor terlebih dahulu sebelum mulai melangkah. Diawal pengajarannya Dalai Lama, menyebutkan bahwa, “Walaupun warna kulit kita berbeda, agama kita berbeda, ada yang Muslim, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Yahudi, bahkan atheist sekalipun, pada dasarnya semua manusia di dunia ini, punya keinginan dan tujuan yang sama, yaitu hidup berbahagia. Banyak orang yang kemudian berlomba lomba mengejar materi untuk menjadi bahagia, tetapi anehnya banyak para orang kaya, selebritis Hollywood yang sangat kaya berlebihan dalam hal fasilitas dan materi, yang kemudian datang ke saya dan berkeluh kesah menceritakan kehidupannya yang tidak berbahagia. Sementara itu disisi yang lain, banyak keluarga sederhana di Tibet, bahkan para pengungsi Tibet di India sini yang dari wajahnya saja kita bisa melihat dan merasakan kebahagiaan dalam hidup mereka, walaupun dalam keadaan yang sangat minim dari segala fasilitas materi. Dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa, materi dan fasilitas memang penting, karena akan membuat hidup kita jauh lebih nyaman, akan tetapi sebenarnya yang jauh lebih penting lagi adalah apa yang ada didalam pikiran kita, in our mind. Karena kehidupan manusia ini ditentukan oleh apa yang ada di pikirannya sendiri, sehingga dengan mampu mengontrol pikiran kita sendiri, maka apapun yang terjadi di kehidupan kita, kita bisa memilih untuk bersikap menerima apa adanya, sehingga kita bisa tetap memilih untuk berbahagia, atau tidak mau menerima kenyataan, marah, bersedih serta memilih untuk tidak berbahagia. Seperti apa yang saya alami di tahun 1959, sewaktu saya kehilangan Negara saya sendiri, saya bisa saja memilih untuk tidak rela, tidak mau menerima kenyataan, marah, sedih, frustrasi, stress, dll. Tapi saya memilih untuk bersikap sebaliknya, menerima kenyataan yang ada, tetap bersikap dan memiliki perasaan bahagia, walaupun juga tetap berjuang untuk Negara dan bangsa saya, serta berkarya bagi kemanusiaan”. Demikian yang Dalai Lama katakan dalam pembukaan pengajarannya.

So kesimpulannya adalah “Everything is about our mind”. Kembali ke bab awal di buku Property Cash Machine tentang Mindset Seorang Investor, demikian juga jika kita ingin sukses secara materi, sukses sebagai pengusaha, sukses sebagai investor, sukses dalam hidup berkeluarga, sukses di masyarakat, semuanya berawal di pikiran kita sendiri. Berpikirlah seperti orang sukses, maka kesuksesan yang sesungguhnya akan terwujud. Atau kata lainnya adalah “Our Inner Wealth, Create The Outer Wealth”, kita harus menjadi kaya didalam terlebih dahulu, baru kita bisa menjadi kaya diluar. Semua berawal bagaimana kita mengontrol pola pikir kita sendiri. Silakan direnungkan dan dipraktikkan.

Follow

About the Author

Adalah seorang Self Made Entrepreneur & Property Investor yang sukses membangun peternakan properti tanpa modal dan bahkan mendapat tambahan modal, dengan strateginya yang unik, luar biasa & telah teruji.

(20) comments

Add Your Reply