Kaya Lewat Bisnis Properti

Majalah DUIT! Juli 2010

Menjadi Kaya Lewat Bisnis Properti

Buku ini sangat cocok untuk mereka yang ingin mendapatkan passive income dari property.

Buat sebagian orang, ‘bermain’ properti nampak sulit dan butuh modal besar. Boleh jadi benar kalau Anda tidak tahu cara bermainnya. Tapi bila tahu rahasianya, Anda akan terkejut, ternyata hal itu mudah dan tidak memerlukan modal besar, bahkan bisa mendapatkannya tanpa modal.

Memiliki perternakan properti dan passive income memang impian setiap orang, tetapi karena kendala modal dan knowledge, tidak semua orang bisa mewujudkan kedua hal tersebut dalam hidupnya. Nah, buku ini akan menginspirasi dan memberikan peternakan properti dan passive income adalah yang sangat mungkin dan bisa dicapai. Karena strategi yang dijelaskan dalam buku ini memungkinkan Anda mewujudkan kedua hal tersebut tanpa harus mengumpulkan modal terlebih dahulu. Bahkan, jika Anda cukup gigih, selain mendapat 2 impian tersebut sekaligus, Anda bisa mendapatkan modal untuk usaha Anda yang lain. Pasalnya, buku ini adalah hasil pengalaman nyata sang penulis serta beberapa workshop JREI Property Cash Machine yang sudah diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia.

Dalam buku ini Anda akan belajar bagaimana memiliki mindset seorang investor properti, bukan spekulan; bagaimana menggunakan leverege untuk mempercepat dan mempermudah mewujudkan impian Anda 99% disetujui bank dan bagaimana membeli property tanpa modal. Jika Anda mempelajari isi buku ini dengan sungguh-sungguh dan membuat target untuk melakukan transaksi seperti yang dilakukan penulis dan teman-temannya, bisa dipastikan kekayaan dan kebebasan finansial ada di tangan Anda.

Makanan paling enak di dunia

Salah satu hobby dan bakat saya di keluarga, yang banyak orang tidak tahu adalah….. memasak….. ya betul anda tidak salah baca… memasak….ha3x…. Pertama kali saya belajar memasak adalah dari ibu saya sewaktu saya kuliah dan tinggal berpisah dari orangtua di Surabaya. Sejak mahasiswa itulah bakat masak saya mulai terasah, dan semakin terasah ketika saya bekerja di US selama 2 tahun.

Tapi saya hanya memasak di saat saat tertentu saja. Saat tidak ada ‘mbak’ dirumah, saat anak saya meminta saya untuk memasak atau saat saya ada ide untuk memanfaatkan bahan bahan yang ada di kulkas…… Sore hari ini kebetulan kondisi kondisi diatas terpenuhi dan saya melihat ada beberapa bahan di kulkas yang bisa saya masak. Jadilah rencananya saya bersama anak saya Nadya memasak nasi goreng…… tapi di tengah tengah saat memasak, dan memasukkan bahan bahan untuk nasi goreng. Tiba tiba saja dipikiran saya terlintas seketika untuk merubah tujuan memasak nasi goreng, menjadi memasak masakan yang namanya “CamCam” alias sayur campur campur…ha3x… Dan anak saya Nadya agak sedikit kecewa ketika mengetahui setelah jadi masakan saya bukan nasi goreng kesukaannya, tapi masakan yang tidak jelas bentuk, warna dan namanya itu.

Kemudian saya meminta dia untuk mencoba hasil masakan saya, yang tidak ada di buku resep manapun, hasil dari memanfaatkan bahan seadanya di kulkas, dan menyimpang dari tujuan semula…… dan anda tahu apa komentar Nadya setelah mencicipi masakan saya? “Wah…Masakan Daddy enak sekali….. aku suka sekali nih…… ini makanan paling enak didunia…….boleh aku habiskan semuanya ya Dad?”, dan bahkan Nadya sampai menambah nasi untuk menghabiskan masakan saya…..

Kemudian sambil menghabiskan makanannya, tiba tiba dia berkomentar…. Ternyata masak itu gampang ya Dad…. Yang penting hanya perlu 2 hal saja….Kreativitas dan Keberanian. “Memang betul sekali Nadya, sahut saya”. Dan anak saya menyahut lagi rasanya dalam melakukan yang lainnya, perlunya juga sama seperti memasak, ….. Kreativitas dan Keberanian

Wow,… mendengar kalimat tersebut saya cukup kaget bercampur bangga, sebab ternyata anak saya Nadya yang baru berumur 10 tahun sudah berhasil menyimpulkan kunci dari kesuksesan di bidang apapun. Betul seperti yang Nadya katakan, dalam bidang apapun modal utama kita adalah Kreativitas dan Keberanian.

Termasuk juga didalam bisnis dan investasi. Mayoritas masyarakat kita mengatakan bahwa dalam berbisnis apalagi berinvestasi, membutuhkan modal uang yang besar. Saya berani katakan TIDAK. Seperti yang anak saya katakan modal utama kita dalam berbisnis maupun berinvestasi adalah Kreativitas dan Keberanian. Seperti telah saya buktikan dan praktikkan selama ini, dalam berbisnis dan berinvestasi, seperti halnya memasak, modal utama saya hanyalah Kreativitas dan Keberanian saja. Seperti yang saya ajarkan dalam buku dan 2 hari workshop Property Cash Machine. Jadi jika anda ingin berbisnis dan berinvestasi…. Atau memulai apapun juga, mulai saja dengan bermodalkan Kreativitas dan Keberanian anda!!

Jadi Selebritis di Event Robert G Allen di Kuala Lumpur

Bicara satu panggung dengan pembicara internasional sekaliber Robert G Allen, di negeri orang pula……. Wow….sebuah pengalaman luarbiasa….impian yang menjadi kenyataan.

Bagi teman teman di Indonesia yang belum terlalu familiar dengan Robert G Allen, wajar saja…..karena di Indonesia buku bukunya tidaksepopuler buku penulis penulis lainnya. Tapi di negara2 lain, nama Robert G Allen sangatlah terkenal, dia adalah salah satu guru legendaris di bidang ‘beli properti tanpa uang’, karena dia sudah menuliskan dan mengajarkan hal ini pada orang banyak sejak 30 tahun yang lalu. Bahkan di Amerika sana, dia mendapat julukan “The Number One Millionaire Maker” ( guru yang paling banyak membimbing orang biasa untuk jadi milyader), dan sering sekali muncul di TV dan mass
media lainnya.

Mentoring saya dengan Robert G Allen dimulai saat saya dalam proses menyembuhkan diri sendiri dari rasa sakit hati, depresi, stress, paranoid, dan penyakit mental lainnya yang disebabkan oleh traumatik kebangkrutan saya yang pertama kali di tahun ’99. Saat itu seperti yang telah saya singgung sekilas dalam buku “Property Cash Machine” saya banyak terbantu oleh buku buku motivasi dan pengembangan diri yang saya baca, salah satu dari buku yang telah menyadarkan dan membangkitkan semangat saya kembali adalah “Creating Wealth” yang ditulis oleh Robert G Allen.

Dalam buku tersebut saya menemukan sebuah kalimat bijak yang artinya seperti ini “Manakala anda jatuh atau gagal, saat sedang dalam perjalanan mewujudkan impian anda, maka anda telah bergabung dalam jajaran orang orang seperti Abraham Lincoln, Thomas Alfa Edison, Walt Disney, etc” …..kala itu yang ada dalam pikiran saya adalah…wah kalau orang2 besar itu saja pernah mengalami gagal, pernah jatuh, pernah bangkrut, artinya wajar wajar saja jika saya gagal, jatuh, bangrut …. Pandangan saya tentang sebelumnya tentang sebuah kegagalan, kejatuhan, kebangkrutan adalah sebuah aib besar, sebuah kejadian yang amat memalukan,……. totally change 180 derajat…. ternyata wajar aja tuh….mereka semua juga mengalaminya, jadi kenapa mesti dipikirin, kenapa saya mesti hiraukan pemikiran dan pandangan orang lain disekeliling saya…..so what gitchu loh…..saya harus bangkit kembali, saya pasti bisa mewujudkan impian2, nasib saya sama dengan Abraham Lincoln, Thomas Alfa Edison, Walt Disney dan nama2 besar lainnya, nasib saya ada ditangan saya sendiri, saya pasti bisa!!!!!

Berbekal semangat dari kalimat bijak tersebut, saya bangkit kembali, melakukan berbagai macam bisnis lagi, sampai akhirnya salah satu bisnis tersebut membuat saya jatuh, gagal, bangkrut yang ke dua kalinya hanya dalam tempo kurang dari 2 tahun sejak kebangkrutan yang pertama di tahun ’99.

Setelah proses kebangkrutan ke 2 tersebut, saya baru sadar, bahwa ternyata untuk sukses, tidak cukup hanya dengan bermodalkan semangat saja, tidak cukup dengan kreatifitas saja, tidak cukup dengan membaca buku saja, kita juga perlu memiliki seorang mentor. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Amerika, bekerja tanpa pengalaman dan tanpa surat ijin kerja, selain untuk mengumpulkan modal dan belajar langsung bisnis franchise di negara asalnya. Sebenarnya impian besar yang sangat memotivasi saya untuk berangkat ke US, meninggalkan anak istri di Jakarta, adalah karena saya ingin berguru langsung, mentoring langsung dengan salah satu guru idola saya, Bob (Robert G Allen).

Tapi setelah saya cari tahu dan menemukan informasi tentang tentang Bob, wow ternyata rogramnya dia muaaaahhaaalll buaaaaangeet, USD 5000, sebuah harga seminar yang mahal sekali, tidak mungkin terjangkau, untuk ukuran saya waktu itu. Akhirnya saya pendam keinginan tersebut, dan sempat sedikit terpuaskan setelah saya mengikuti sebuah seminar seharinya Robert T Kiyosaki di Virginia. Sambil memendam keinginan saya untuk berguru langsung dengan Bob, saya bertekad, akan praktekkan semua yang saya pelajari dari buku2 Robert G Allen (Creating Wealth, Nothing Down, Multiple Streams of Incomes dan One Minute Millionaire) dan setelah saya berhasil, saya akan temui beliau. Dan akhirnya saya kembali ke Indonesia untuk merintis bisnis, tanpa sempat berguru langsung dengan Bob, tapi dengan bermodalkan semangat dan insprasi yang diberikan Bob dalam buku “One Minute Millionaire” yang saya baca sewaktu sambil kerja di US.

Singkat cerita, seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya, akhir tahun lalu, saya mendapatkan info bahwa Bob, akan datang ke Asia, dan akhirnya bulan Maret lalu saya berhasil menemui Bob di Singapore, dan menceritakan hal hal yang telah berhasil saya praktekkan setelah membaca buku bukunya.

Minggu lalu 14-16 Mei, di Kuala Lumpur, akhirnya saya berhasil mewujudkan impian 10 tahun yang lalu untuk berguru dengan langsung dengan Bob. Bersama dengan 300an orang lainnya dari Malaysia, Singapore, China, India, Indonesia serta negara2 lainnya. Dan tanpa saya duga sebelumnya ….. Di hari ke 2, Bob turun dari panggung….kemudian menghampiri tempat saya duduk dan meminta saya untuk naik panggung bersama beliau… Dan dengan bangganya, Bob menceritakan kisah saya, dia sangat terharu karena bukunya bisa memotivasi seseorang yang tidak dia kenal dari sebuah tempat yang juga dia tidak kenal sebelumnya, dan meminta saya untuk berbicara, sharing tentang perjalanan saya, bertemu dengan buku2 beliau, sampai berhasil mempraktekkannya di Jakarta, Indonesia dan akhirnya bisa menjadi seorang Entrepreneur, Investor Properti dan sekarang Infopreneur (penulis buku dan trainer). Walaupun awalnya saya sempat ragu, karena bahasa Inggris saya yang tidak lancar, tapi akhirnya saya berhasil mendapat sambutan yang luarbiasa dari para peserta lainnya.

Sejak turun dari panggung hari itu, sampai hari terakhir, tak henti hentinya teman2 baru dari Malaysia, Singapore, China, India dan beberapa dari Indonesia menghampiri saya, mengucapkan selamat, mengajak berkenalan, minta tanda tangan, berfoto bersama, angkat saudara, sampai angkat anak ….he3x….(minta saya untuk tinggal di rumahnya jika ke Singapore), dll.

Wow….sungguh sebuah pengalaman yang luarbiasa, pertama kalinya saya berbicara didepan ratusan orang di negara lain, dengan berbahasa Inggris, tanpa persiapan sama sekali dan satu panggung dengan penulis dan pembicara Internasional sekelas Robert G Allen…..sungguh saat saya sedang menuliskan artikel inipun, saya masih antara setengah tidak percaya dengan apa yang telah saya alami beberapa hari yang lalu.

Sungguh mengharukan, saya sama sekali tidak menyangka, ternyata kisah perjuangan hidup saya bermanfaat bagi orang lain, berhasil menginspirasi tidak saja teman teman di tanah air, dari Aceh sampai Bali, dari Bontang sampai Pontianak, dari kota2 besar seperti Jakarta, Makassar, Surabaya…sampai kota2 kecil seperti Tegal, Subang, Karawang….bahkan sekarang sampai keluar Indonesia…Malaysia, China, Singapore, India, dll.

Ada beberapa orang yang ketika saya turun panggung, minta berkenalan dan memberi ucapan selamat pada saya….sampai terharu dan berlinang airmata….bahkan ada seorang wanita muda yang ternyata berasal dari Padang, Indonesia…mengucapkan seperti ini, “Joe saya bangga dengan kamu, ternyata ada orang Indonesia yang bisa diundang naik panggung bersama Robert G Allen, saya bangga akan pencapaianmu, selamat!!”

Oh ya, sekedar info saja, tahun depan 2011, semoga semuanya lancar, saya mendapat kesempatan diundang oleh Bob ke rumahnya di Amerika, berdiskusi, bergabung dalam kelompok MasterMind yang dibimbing langsung oleh Bob, untuk mewujudkan impian impian berikutnya. Dan semoga saya bisa tetap membagikan ilmu ilmu baru lainnya untuk seluruh teman2 dan sahabat saya, dimanapun anda saat ini berada. For Your Freedom!!

INVESTASI TERBAIK DI DUNIA

Enam tahun yang lalu, saat itu saya baru saja beberapa bulan kembali dari Amerika, sebuah negeri dimana banyak para pengusaha besar menyekolahkan anak anak mereka di sana, dimana banyak para pejabat negeri kita sekarang yang dulunya bersekolah di sana, sebuah negeri yang sebagian besar masyarakat Indonesia sepanjang hidupnya hanya bisa menyaksikannya dari layar bioskop, televisi atau berita berita di mass media. Sebuah negeri impian bagi para orangtua untuk menyekolahkan anak anaknya.

Tetapi saya menjalani hidup saya selama 2 tahun di Amerika, bukan karena orangtua saya kaya dan menyekolahkan saya ke sana, bukan pula karena prestasi akademik saya cemerlang sehingga mendapat beasiswa untuk belajar ke sana, bukan pula karena saya seorang yang sukses secara materi sehingga saya bisa memiliki tabungan untuk saya habiskan jalan jalan ke tempat tempat wisata di Amerika. Bukan, bukan itu semua.

Tetapi saya ke sana, karena keadaan yang memaksa, di mana saat itu saya baru saja bangkrut habis habisan yang ke 2 kalinya dalam waktu tidak sampai 2 tahun dan saya tidak mempunyai penghasilan sepeserpun. Saya berangkat ke Amerika benar benar “modal nekat” hanya bermodalkan tiket pp, $1000 (hasil pinjaman ke mertua saya), visa turis, tanpa kemampuan berbahasa Inggris fasih, tanpa pengalaman kerja di luar Indonesia, tanpa tahu apa yang akan saya hadapi di sana dan tanpa ijin kerja pula. Pokoknya yang penting berangkat dulu, sampai Amerika dulu, what will be, will be lah 🙂

Dan seperti sebagian besar anda yang sudah membaca dalam buku saya “Property Cash Machine – langkah Cerdas Membangun Kekayaan Tanpa Modal”, di bagian awal saya sudah menceritakan tentang kisah kerja keras dan perjuangan selama kerja 730 hari dengan 3 pekerjaan sekaligus (sebagai pelayan toko, sebagai kurir antar makanan dan sebagai petugas cleaning service) dan harus terpisah jauh dari keluarga di Indonesia. Dan setelah 730 hari akhirnya saya memutuskan kembali ke negeri tercinta Indonesia ini.

Kembali ke awal tulisan diatas, 6 tahun yang lalu adalah waktu dimana saya baru saja beberapa bulan kembali dari Amerika. Saya kembali tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Pekerjaan saya waktu itu hanyalah antar jemput anak sekolah dan menjadi sopir sekaligus pengawal pribadi istri saya. Bagi anda yang pernah mengalami situasi ini, kita sebagai pria, kepala rumah tangga , sangatlah tertekan secara psikologis. Masa itu adalah masa-masa yang menantang bagi saya.

Belum lagi menghadapi keluarga yang setiap kali bertemu, menanyakan “Sudah punya rencana kerja atau usaha apa???” Boro boro…… Jangankan untuk mikir kerjaan, menyesuaikan dengan situasi Jakarta yang serba jauh dan macet kemana-mana saja suatu tantangan berat bagi saya waktu itu, belum lagi proses penyesuaian dengan istri yang sudah berpisah selama 2 tahun. Wow tidak mudah sama sekali.
Untunglah walau tanpa penghasilan dan tanpa tahu kapan akan kembali mulai berpenghasilan, saya mempunyai kesadaran akan pentingnya mengembangkan diri, pentingnya menambah ilmu dan menambah lingkungan baru yang positif, akhirnya saya memutuskan untuk meng”investasi”kan tabungan hasil kerja keras saya selama 2 tahun di Amerika dalam bentuk seminar-seminar pengembangan dan motivasi diri yang harganya tidaklah murah (jutaan rupiah) dan dalam buku-buku motivasi dan pengembangan diri yang nilainya juga besar sekali untuk ukuran saya pada waktu itu. Tanpa saya sadari, saya sudah menghabiskan puluhan juta rupiah untuk “investasi” dalam kepala saya atau leher keatas ini.

Waktu itu, walau saya ‘pengangguran’ tapi saya tidak mau melewatkan waktu dengan hanya merenung di rumah dan menyesali nasib, saya ikuti semua seminar yang ada waktu itu, baik pembicaranya yang namanya berawalan huruf depan ‘A’ sampai yang berawalan huruf ‘Z’ saya sudah ikuti semua waktu itu.

Saya ikut seminar-seminar dari berbagai model. Ada seminar motivasi di hotel berbintang yang pesertanya diminta untuk teriak teriak sampai suara habis setelah selesai seminar. Ada seminar yang pesertanya dibuat bercucuran airmata. Ikut juga workshop pertanian yang diadakannya dipelosok desa dimana harus tidur di losmen murah dan makan seadanya. Pokoknya ada seminar atau workshop dimanapun yang menarik hati saya waktu itu saya kejar, walau harus keluar biaya hotel dan transportasi diluar kota sekalipun.

Waktu itu sekalipun kegiatan saya ini terbilang positif, tetap saja mendapat tantangan dari pihak keluarga. Bahkan setiap kali pulang ke rumah orang tua, ada sedikit perasaan tidak enak, karena pasti ayah saya selalu berkata, “Sudah sekarang tidak usah kebanyakan baca buku dan buang buang uang ikut seminar sana sini, kamu malah habiskan uang untuk bikin kaya penulis buku dan pembicara seminarnya saja. Yang penting sekarang cari kerja atau usaha gitu lho…”

Walau mendapat tantangan seperti itu, untunglah saya mengambil keputusan untuk tetap meng’investasi’kan uang tabungan saya untuk beli buku dan ikut seminar dan workshop2 tersebut. Dan ternyata keputusan saya untuk meng’investasi’kan pada kegiatan belajar itu sangat tepat sekali. Karena ternyata setelah saya renungkan perjalanan hidup saya sampai saat ini, justru buku, seminar dan workshop-workshop tersebutlah yang membuat kehidupan saya berubah bagai bumi dan langit dengan kehidupan saya 6 tahun yang lalu. Bahkan pada titik tertentu boleh dibilang telah menyelamatkan hidup saya.

Buku, seminar dan workshop-workshop tersebutlah yang menyelamatkan kehidupan rumah tangga saya. Saya sangat berterima kasih sekali dengan para penulis buku dan pembicara seminar yang sudah mau meluangkan waktu mereka untuk membagikan ilmunya, karena melalui merekalah, hidup saya bisa berubah. Bahkan beberapa diantara mereka sekarang menjadi teman-teman baik kami saat ini.

Dan karena alasan itulah pula sekarang saya membayar balik pada masyarakat luas atau istilahnya “pay it forward” dengan menuliskan “Rahasia sukses saya” dalam buku Property Cash Machine dan mengajarkannya pada orang banyak dalam bentuk workshop properti dan seminar-seminar entrepreneurship.

Untuk itu pulalah saya rela meluangkan waktu Sabtu dan Minggu, yang seharusnya saya pakai istirahat dan menikmati kebersamaan bersama keluarga setelah sibuk mengurusi bisnis di hari biasa, tapi saya memilih untuk ada di pelosok negeri ini mulai dari Aceh sampai Bali, dari Pontianak sampai Purwokerto, untuk membangkitkan semangat dan motivasi teman-teman di sana.

Dan ternyata setelah saya membaca kisah para orang sukses di dunia dan pembicara-pembicara Top dunia seperti Anthony Robbins (yang baru saja selenggarakan seminar dengan harga lebih dari Rp. 40 juta per orangnya di Bali), mereka juga berani membayar harga di awal, berani meng”investasi”kan uang tabungan mereka untuk meningkatkan diri mereka, untuk mengembangkan diri mereka, hingga bisa seperti saat ini.

Sampai disini mungkin sebagian kecil dari anda mempunyai pemikiran seperti ini “ah..pak Joe bisa begitu kan, walau tidak punya penghasilan, tapi kan… punya tabungan hasil kerja di Amerika…”
Hayo siapa yang punya pikiran seperti itu? Saya jawabnya mudah saja, silahkan anda baca kisah Agus Handayanto (dalam buku Property Cash Machine) salah satu alumni workshop properti yang saya selenggarakan. Pak Agus gabung workshop saya dalam kondisi tidak punya uang sama sekali, dan akhirnya berhasil bergabung dengan cara menggadaikan handphone kesayangan istrinya.

Tapi apa yang terjadi 2 bulan kemudian setelah dia mempraktekkan satu strategi, ya betul hanya satu strategi saja yang diajarkan dalam workshop, Pak Agus berhasil membeli sebuah toko handphone tanpa keluar uang dari kantongnya sendiri dan setiap bulan mendapatkan penghasilan pasif sebesar Rp 5 juta/bulan. Wow! Pasif lho ya, luarbiasa bukan?

Saya sendiri, investasi yang saya investasikan dalam buku-buku atau seminar-seminar telah kembali beribu-ribu kali lipat, beribu-ribu persen walau sebenarnya hasilnya sangatlah tidak bisa hanya diukur secara materi saja.

Jadi terus terang saja sampai saat ini saya masih heran buangeeeett, kalau ketemu teman lama atau baru yang begitu tahu, saya adalah seorang penulis buku best seller dan pembicara, bukannya segera membeli buku saya, tapi minta diberi gratis 🙂

Mereka terkadang bilang begini “Kasih dulu bukunya ke saya gratis, nanti setelah saya berhasil praktekkan saya bayar 10 kali lipat …….. he3x” atau ada yang bilang begini, “Kapan kamu mau undang saya ke workshopmu yang harganya jutaan itu? Gratis dong, nanti kalau sudah berhasil dipraktekkan dan ada hasilnya baru bayar……he3x”

Dalam hati kecil saya hanya berkata begini, kalau untuk investasi ilmu di pikiran mereka saja, mereka tidak mau berkorban, bagaimana mereka bisa merubah hidup mereka? Sementara itu untuk beli ‘gadget’ keluaran terbaru yang harganya jutaan, mereka berani menggesek kartu kredit untuk menjaga gengsinya, tidak heran kehidupan mereka tidak berubah lebih baik sejak saat terakhir bertemu dengan saya, dan saya tidak heran pula, jika bertemu dengan mereka beberapa tahun ke depan kehidupan mereka akan tetap sama, bahkan mungkin lebih buruk.

It’s about the life principle, Apa yang anda tabur itulah yang anda tuai.
Dengan ber”investasi” di diri anda, Anda sedang menabur ilmu di pikiran anda dan belajar banyak hal. Dengan belajar banyak hal, akan terjadi perubahan yaitu berubahnya pola pikir anda, berubahnya cara anda memandang sesuatu, berubahnya cara anda bicara, berubahnya cara anda bertindak maka berubah pulalah nasib dan hidup anda.

Atau kalau menurut boso jowone “You have to be the change! Change the way you think, change the way you do things and then you will enjoy your fruits of success”.

So marilah mulai saat ini membangun kebiasaan ber’investasi’ di pikiran anda, di kepala anda, di leher keatas anda. Investasi di diri anda adalah investasi yang terbaik di dunia!!!

Mengapa saya bisa “berlari” cepat???

Sahabat sahabat TDA,
Terima kasih atas ucapan selamat untuk keberhasilan saya bersama
Gramedia menerbitkan buku “PROPERTY CASH MACHINE – Langkah Cerdas
Membangun Kekayaan Melalui Properti Tanpa Modal”.

Memang benar yang dikatakan pak Roni dan pak Abduh (saya juga heran
kok …kalian masih ingat sih) bahwa waktu itu di pertemuan awal kita,
awal tahun 2006 (awal terbentuknya TDA), pak Haji Alay mengatakan pada
saya didepan teman teman lainnya, bahwa nantinya saya adalah salah
satu yang “larinya” paling cepat. Waktu itu saya juga bingung……..
apa maksud beliau??? padahal beliau kan tidak kenal latar belakang
kita satu persatu, kita semua baru dikenalnya hari itu, kecuali pak
Roni tentunya. Saya tidak berani bertanya, tapi hanya menduga duga
saja….mungkin ucapan beliau ini ada hubungannya dengan pertanyaan
saya pada beliau sebelumnya. Karena beberapa saat sebelumnya saya
bertanya begini ke beliau “Pak Haji, sebenarnya bisnis bapak yang
sebenarnya dagang busana muslim atau investasi properti?” Mungkin
karena pertanyaan saya yang “beyond” pertanyaan teman teman yang lain
inilah, pak Haji mengatakan ucapan itu. Bingung bercampur senang, dan
sekaligus “terbeban” juga, karena itu diucapkan didepan banyak teman
yang lain.

Kalau teman teman yang lain waktu itu…dengan “euophoria”nya
mengambil tawaran pak Haji untuk memakai secara gratis kios kiosnya di
ITC M2 dan Tanah Abang, saya justru sebaliknya…..saya tidak serta
merta mengambil tawaran itu. Tapi saya berusaha menganalisa, kenapa
pak Haji bisa menawarkan kios kiosnya secara gratis? apa
alasannya?………..Dan setelah saya analisa mendalam, ternyata saya
menemukan alasan utamanya, bahwa selain menawarkan propertinya (kios
kiosnya) secara gratis yang tentunya menguntungkan teman teman yang
mengambil kesempatan itu…..tapi “beyond” ….dibalik itu, pak Haji
juga mendapat manfaat yang jauh lebih besar. Karena dengan diisi oleh
teman teman…..otomatis lokasi propertinya jadi ramai…dan setelah
ramai, maka harga sewa bisa dinaikkan, setelah harga sewa naik
tentunya harga properti juga naik, ….nah keuntungan dari harga sewa
dan harga properti ini, bisa jauh jauh….jauh lebih besar dari
keuntungan bisnis busana muslimnya. Dan memang analisa saya ternyata
terbukti tepat, karena jika anda sekarang ke lokasi lokasi tersebut,
saat ini kondisinya sudah jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu, sudah
sangat ramai, harga sewanya tinggi dan harga propertinya juga sudah
naik berlipat lipat.

Dengan analisa tersebut, saya berkesimpulan bahwa investasi properti mempunyai kekuatan yang luarbiasa dan ujungnya dari semua bisnis, jadi saya harus fokus untuk bisa berhasil melalui properti, ditambah ucapan pak Haji, yang menjadi”beban” saya…..akhirnya “memaksa” saya harus ACTION, ACTION dan ACTION untuk membuktikannya (karena ucapan pak Haji itu seperti menjadi suatu
AMANAH bagi saya untuk membuktikannya, saya tidak mau membuat malu pak
Haji, dan saya sendiri tentunya, kalau ucapan beliau sampai tidak
terbukti). Dan singkat cerita, seperti banyak teman  sudah ketahui
ceritanya, memang  saya berhasil “berlari” di bidang investasi
properti dan bisnis, bahkan sampai  saya berhasil membuat pelatihan
yang mengajarkan teman teman yang lainnya bagaimana melakukan hal yang
sama seperti yang saya lakukan. Dan yang terbaru ini, saya berhasil
bekerjasama dengan PT. Gramedia Pustaka Utama untuk menerbitkan buku
“PROPERTY CASH MACHINE – Langkah Cerdas Membangun Kekayaan Melalui
Properti Tanpa Modal”. Harapan saya buku ini dapat menjadi “Lilin
Kecil” bagi teman teman yang ingin mulai berinvestasi di properti
mengikuti langkah pak Haji Alay.

Marilah kita renungkan cerita singkat perjalanan saya tersebut. Banyak
di antara kita (terkadang saya sendiri) yang jika dipuji di hadapan
orang banyak, malah terlena dengan pujian itu, dan akhirnya lupa
bahwa, pujian hanyalah sebuah pujian belaka jika kita tidak
mempertahankan prestasi kita dan membuktikan bahwa pujian tersebut
benar adanya. Jauh lebih penting ACTION, ACTION dan ACTION, serta
menjalani prosesnya, dibanding dengan pujian itu sendiri. Marilah kita
buktikan pada semua orang, bahwa kita memang layak menerima pujian dan
bisa “berlari” cepat dengan ACTION yang kita lakukan.

Akhir kata, sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk pak Haji Alay
yang sudah “membebani” saya dengan pujiannya, sehingga “memaksa” saya
untuk ACTION, ACTION dan ACTION. Buat pak Roni yang sudah
mempertemukan saya dengan inspirator saya pak Haji Alay dan “memaksa”
saya untuk memberanikan diri mulai menulis di blog di tahun 2007. Dan
terima kasih juga buat seluruh sahabat sahabat TDA yang selama ini
selalu rajin mengunjungi blog saya dan memberi semangat dengan
komentar komentarnya (maaf kalau beberapa bulan terakhir, karena
kesibukan dengan proyek buku, saya tidak pernah up date blognya).
Terima kasih kalian semua sudah banyak merubah kehidupan saya, selama
3 tahun ini. Marilah kita rubah kehidupan saudara saudara kita yang
lain menjadi lebih baik juga, melalui berbagai cara yang bisa kita
lakukan.

Salam Sukses Mulia,
Joe Hartanto
www.joehartanto.com
www.propertycashmachine.com

When you got a DREAM, you got to PROTECT it

Entah sudah berapa kali saya menonton  film “The Pursuit of Happyness” yang diperankan oleh Will Smith. Film yang sangat Luarbiasa. Film ini adalah kisah nyata yang mengisahkan tentang perjuangan seorang Chris Gardner dalam mencari Happiness (kebahagiaan). Dalam perjuangannya tersebut, Chris sempat mengalami banyak tantangan, ditinggal oleh istrinya, harus mengurus anak laki satu2nya, diusir dari rumah sewaannya, dipenjara, diusir dari hotel, kehilangan teman, tidur di toilet umum, tidur di rumah homeless, sampai2 untuk menyambung hidupnya dia sempat menjual darahnya sendiri. Tapi dia selalu bersikap positif dan pantang menyerah, sampai akhirnya dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya dan akhirnya berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan tahun lalu 2006 menjual sebagian kecil sahamnya yang bernilai jutaan US dollar.

Dalam salah satu adegan, Chris mengatakan pada anaknya :
Don’t ever let somebody tell you, you can’t do something, not even me.
When you got a Dream, you gotta protect it.
People can’t do something on themselves, and they wanna tell you, you can’t do it. If you want something Go Get It, period.

Luarbiasa, kalimat ini diucapkannya pada waktu dia sedang benar2 dalam kesulitan sehabis ditinggal istrinya dan tidak punya uang untuk hidup. Dan akhirnya dia benar2 dapat mewujudkan Dreamnya, karena sikapnya yang luarbiasa positif, tetap berpegang pada impiannya, pantang menyerah dan gigih.

Saya menyimpulkan bahwa sikap atau attitude kita adalah faktor utama yang menentukan kesuksesan kita. Situasi apapun dapat dan bisa terjadi dalam perjalanan hidup kita, dan itu terkadang diluar kontrol kita. Tapi satu hal yang dapat kita kontrol adalah sikap kita, apakah kita mau menyikapinya dengan positif, tetap fokus pada impian kita, atau kita mau bersikap negatif dan melepaskan impian kita (menyerah). Semua kembali lagi tergantung pada pilihan kita. Success or Fail, It’s about our choice!

Richard Wiseman dalam bukunya Luck Factor juga mengatakan :
You make your own luck through your attitude. If you sit in the house and do nothing, then nothing will come to you, but if you’re out there, working for it, then it will come and find you.

Jadi ayo kita wujudkan impian2 kita, 11 digit…., itu hanya masalah waktu, memang benar. Tapi seperti kata pak Tung Desem Waringin bilang, apakah mau kita mencapai 11 digit pada waktu kita sudah berumur 90 tahun?

So go get your Dream, protect it. Don’t let anybody steal your Dream.
See you at the Top!

Seburuk itukah situasinya???

Saat saya membaca  buku Joe Vitale yang berjudul “Seven Lost Secrets of Success”, ada sebuah ulasannya yang amat menarik dan layak untuk kita refleksikan pada diri kita yang berjudul :

MARI KITA HADAPI KENYATAAN

Apakah anda beranggapan saat ini adalah masa yang sulit? Ya, ada perang, kemiskinan, depresi, resesi, ketidak pastian ekonomi, persaingan, praktik bisnis curang, dll.

Saya yakin bila anda membaca surat kabar dan menonton berita di TV hari ini, Anda bisa mengalami depresi.

Saya yakin bila anda membuka internet dan meneliti semua orang yang menjual produk atau jasa yang sama dengan bisnis anda, anda juga merasa stress dan tidak berdaya.

Namun ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan kepada anda :

APAKAH SITUASINYA SEBURUK ITU??

Bermain mainlah dengan saya di sini …

Bayangkan saat ini th 1902 Anda tinggal di sebuah kita kecil di Wyoming.. ya .. Wyoming bukan Chicago atau New York City. Populasi kota kecil ini hanya 3000 orang, sebagian besar adalah pekerja tambang. Mereka tidak menghasilkan banyak uang. Anda bisa membayangkan apa yang mereka lakukan dengan uang itu pada hari gajian.

Ada 22 salon di kota anda yang juga ingin mengambil uang para penambang yang di dapat dengan kerja keras dan menyediakan kredit. Namun lihatlah gambaran selengkapnya di sini…

Anda tidak memiliki telephone, fax, computer, radio, televisi atau internet. Anda tidak punya uang untuk iklan surat kabar. Anda sangat miskin dengan seorang istri dan anak anak yang perlu diberi nafkah.

Cita cita Anda adalah membuka toko yang menjual pakaian dengan potongan harga.

Dan tidak seorang pun percaya Anda bisa mencapainya.

Semua pemilik bisnis dan bankir, seperti juga sebagian besar keluarga dan teman, menyebut anda GILA.

Berapa besar peluang Anda untuk sukses ?

Akankah Anda mengupayakan bisnis ini ?

Pikirkan … dan jujurlah pada diri Anda sendiri

Akankah Anda berbisnis dalam situasi 1902 seperti itu ?

Namun orang yang memiliki visi ini tak bisa dihentikan

Seorang pemuda dengan sebuah visi memulai sebuah toko kecil di Wyoming, pada th 1902 dalam kondisi seperti yang saya baru utarakan, dan terus berusaha membangun bisnis besar yang masih ada sampai hari ini.

Saya sedang membicarakan JC Penney

Ya.. orang yang mendirikan department store yang bisa anda temukan di setiap kota besar di Amerika, mencapai 1000 buah saat ini.

JC Penney mulai dari nol untuk menciptakan jaringan toko yang pada awalnya bernama the Golden Rule. Dia menjadi kaya dan kehilangan semua itu, US $ 40 juta, saat Great Depression 1929, namun dia tetap melanjutkan usahanya hingga menjadi sukses lagi seperti sekarang.

Toko yang JC Penney dirikan di Kemmerer, Wyomning pada 14 April 1902 itu merupakan bangunan satu ruang berkerangka kayu yang terletak di antara binatu dan penginapan, jauh dari kompleks pertokoan utama yang ada di kota itu. Dia dan keluarganya tinggal di loteng toko. Sebelum memulai toko itu, Penney mempelajari kota tersebut, orang orangnya dan kebutuhan kebutuhan mereka (memang riset pemasaran selalu terbayar).

Tokonya dinamakan the Golden Rule karena menerapkan prinsip mendasar yang dia yakini. Sebenarnya semua orang mengatakan dia akan gagal karena dia menentang penjualan barang secara kredit, namun penjualan hari pertama sebanyak US$ 464 dan tahun pertama sebesar US $ 28.898. Itu merupakan suatu visi yang hebat

Penney memimpikan jaringan toko yang tersebar di seluruh wilayah Rocky Mountain. Dan dia berhasil mewujudkan impiannya, bahkan jauh lebih besar dari impiannya semula.

Marilah kita refleksikan dalam kehidupan kita saat ini, yang jauh lebih mudah dari Penney, pasar yang sangat luas (jumlah penduduk yang berkali kali lipat dari jaman Penney) bagi produk dan jasa kita, alat dan sarana pemasaran yang jauh lebih canggih, ada televisi, radio, internet, koran, dll.

Jadi kenapa kita harus strees dengan produk dan jasa sejenis, tipe pemasaran yang sejenis, cara pemasaran yang hampir sama, dll. Pasar saat ini sangat luas…..sangat besar….sangat banyak orang yang sangat membutuhkan produk dan jasa kita.

So, let’s  DREAM BIG, THINK BIG, ……BIG SUCCESS!!!

Rahasia cara berpikir Orang Kaya

Tanggal 7 – 9 November 2008 yang lalu, saya mengikuti program seminar “Millionaire Mind Intensive” di Singapore Expo, yang di bawakan oleh T. Harv Eker, salah satu pembicara terkenal di dunia dan pengarang buku best seller “Secret of the Millionaire Mind”. Apa yang saya pelajari dan dapatkan selama 3 hari seminar, sungguh amat luarbiasa dan berharga. Seminar ini adalah akar, dasar dari semua seminar yang pernah saya ikuti selama ini. Seminar ini membahas apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi kaya, atau apa yang menyebabkan seseorang tetap miskin sepanjang hidupnya. Saya akan coba sharingkan kesimpulan dari apa yang saya dapat selama 3 hari seminar ini.

Di dunia ini selalu terdapat dua sisi, gelap – terang, naik – turun, panas – dingin, susah – senang, maju – mundur. Demikian pula dalam hal keuangan, ada sebab, ada akibat. Sebagian besar dari kita, jika menyangkut masalah keuangan, selama ini selalu berfokus pada akibatnya (hasil akhir). Kita selalu menetapkan target, goal, tujuan keuangan kita 1 tahun kedepan, 5 tahun ke depan atau 10 tahun ke depan.

Kita selalu berusaha mencapai hasil akhir, sekuat tenaga, mencurahkan segenap pikiran waktu dan energi untuk mencapainya. Jika diibaratkan dengan sebuah pohon buah, akibat atau hasil akhir adalah buahnya. Dan kita selama ini selalu berfokus pada”buah” dari usaha kita. Jika “buah” yang kita harapkan tidak sesuai dengan harapan kita, “buahnya terlalu kecil”, “buahnya kurang manis”, “buahnya sedikit”, dll, biasanya kita akan semakin memberikan fokus dan perhatian yang lebih pada “buahnya” atau pada akibatnya, hasil akhirnya.

Padahal seperti hukum sebab – akibat, buah adalah akibatnya, sedangkan sebabnya adalah bibit dan akar dari pohon buah tersebut. Apa yang tampak dipermukaan (buah, daun, bunga) diciptakan dari apa yang tidak tampak dipermukaan (bibit, akar) Jadi kalau kita ingin mendapat buah dengan kualitas baik, hasil akhir sesuai dengan yang kita inginkan, maka yang harus kita rubah atau perbaiki adalah bibit atau akar pohonnya. Jika kita ingin merubah yang diatas permukaan, pertama tama kita harus merubah yang ada dibawah permukaan. Kita tidak bisa merubah buah yang sudah muncul dipohon, yang bisa kita lakukan adalah merubah buah yang belum muncul, tapi untuk itu kita harus menggali, memperkuat dan merubah kondisi perakaran pohon buah tersebut.

Dalam hal keuangan, dalam diri kita, tanpa disadari sebenarnya ada software “program keuangan” yang sudah tertanam dalam pikiran bawah sadar kita. program keuangan itu terdiri dari seluruh pemikiran, perasaan, dan tindakan kita sehubungan dengan uang. Yang semuanya kita dapat dari pengalaman dan kondisi yang terjadi di masa lalu, terutama pada masa kecil. Kita diajarkan bagaimana berpikir, berperasaan, bertindak dalam berhadapan dengan masalah uang. Dan pelajaran pelajaran di masa kecil inilah yang menjadi program keuangan kita sekarang, yang secara otomatis bereaksi saat kita berhubungan dengan uang.

Program yang ada di pikiran bawah sadar kita, menentukan cara kita mengambil keputusan, cara kita mengambil keputusan menentukan tindakan kita, yang mana tindakan kita akan menghasilkan akibat atau buah yang kita harapkan. Darimana kita memperoleh program keuangan ini, dari pengalaman masa lalu yang kita terima, dalam bentuk kata kata, pengamatan, dan kejadian khusus, dan lalu kita simpan dalam pikiran bawah sadar kita, Kita semua pasti pernah mendengar pernyataan keliru tentang uang dari orang tua kita, saudara kita, guru kita, lingkungan kita, misalnya pernyataan bahwa “uang adalah akar dari segala kejahatan”, “orang kaya itu pelit, kikir” dll. Kita pasti pernah mengamati tingkah laku atau tindakan orang terdekat kita terhadap uang, kita pasti pernah mengalami suatu kejadian yang tidak enak sehubungan dengan uang. Dan itu semua membentuk pola pikir, perasaan dan tindakan kita terhadap uang pada masa kehidupan kita sekarang.

Padahal semua informasi yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar kita itu, sekarang ini sudah tidak relevan dan tidak mengandung kebenaran lagi, karena semua itu terjadinya di masa lampau. Dan yang lebih parahnya adalah, segala keputusan kita saat ini yang berhubungan dengan keuangan, entah itu pekerjaan, bisnis, tabungan, investasi atau cara kita membelanjakan uang kita, selalu didasari oleh program program masa lalu yang ada di pikiran bawah sadar kita.

Nah, jika kita ingin merubah situasi keuangan kita, tentunya programnya dulu yang perlu dirubah. Untuk merubah program ini, pertama tama yang harus kita lakukan adalah 1. Menyadarinya. Sadari bahwa kita pernah mendengar, mengamati dan mengalami perkataan atau kejadian yang tidak benar mengenai uang pada masa lalu kita. 2. Mengerti. Bagaimana program kita itu telah mempengaruhi kehidupan keuangan kita sekarang ini. 3. Patahkan belenggu masa lalu (dissasosiasi). Setelah kita mengerti bahwa semua pemikiran kita ini hanyalah apa yang kita pelajari selama ini, dan itu berbeda dengan diri kita yang sesungguhnya saat ini, maka kita harus sadari bahwa kita mempunyai pilihan untuk merubahnya. 4. Buat pernyataan atau persepsi baru (deklarasi) tentang uang. Misalnya : “Saya adalah magnet uang, uang mengalir dari segala sumber sumber yang tak terduga, dan saya pandai dalam mengelola serta menginvestasikan uang.”

Kunci dari perubahan sebenarnya adalah menyadari apapun yang terjadi pada saat ini. Dengan memiliki kesadaran yang penuh, kita akan dapat mengendalikan pikiran, perasaan, tindakan dan kehidupan kita. Sebenarnya apa sih yang disebut kesadaran itu??

“Kesadaran (Awareness) adalah mengamati setiap pikiran yang timbul dan tindakan yang kita ambil, sehingga kita bisa benar benar memilih keputusan yang kita ambil berdasarkan keadaan saat ini (present moment), bukan berdasarkan pada apa yang sudah terjadi di masa lalu.”

Selamat menyadari program keuangan masa lalu anda dan bersiaplah untuk merubahnya, dan mendapatkan akibat atau “buah yang lebih baik”!!

Krisis Ekonomi atau Krisis Pikiran???

Situasi ekonomi tidak menentu, krisis dimana mana, nilai saham dan reksadana hancur, bunga bank naik, penjualan properti menurun, proyek real estate macet, rupiah melemah, daya beli menurun, PHK mulai terjadi, banyak pabrik tutup, bahkan katanya ……. bakal ada kerusuhan sosial seperti th’98???

Itulah berita berita dan pembicaraan yang anda dapatkan dari mass media dan teman teman anda akhir akhir ini. Semuanya serba negatif dan melemahkan energi kita.

Apakah benar situasinya seperti itu? Mungkin sebagian besar dari kita akan mengatakan, “Ya iyalaaah…..sudah jelas kenyataannya demikian, kok masih nanya…..buta kaleee”. Kenyataan yang mana ya??? Kenyataan yang ada di TV, di Radio, di Koran, di majalah, atau di gossip sehari hari. Apakah benar itu kehidupan yang sedang kita jalani saat ini???

Sekarang mari kita lihat, lebih jauh lagi. Bukankah sudah merupakan fenomena kehidupan ini, ada naik, ada turun, ada susah, ada senang, ada untung, ada rugi. Sebenarnya itu semua kan sudah satu paket dengan kehidupan kita. Tidak mungkin dalam hidup ini, kita maunya untung melulu, naik melulu, senang melulu, menang melulu, rugi melulu, turun melulu, susah melulu, atau kalah melulu.

Jika kita refleksikan kehidupan ini, bukankah situasi ini selalu berulang dalam kehidupan kita, krisis ekonomi akan selalu terjadi di dunia ini, krisis pun selalu terjadi dalam hidup kita pribadi, sejak kita kecil, dan akan selalu terjadi sampai krisis besar terjadi, yaitu kematian. Itu hukumnya mutlak, dunia selalu berubah, perubahan itu adalah abadi.

Jadi kalau kita sekarang sedang untung, bersiaplah untuk rugi, kalau kita sekarang sedang naik, bersiaplah untuk turun, kalau kita sekarang sedang berkuasa, bersiaplah untuk lengser. Dan sebaliknya juga, kalau kita sekarang sedang susah, bersiaplah untuk senang, kalau kita sekarang sedang turun, bersiaplah untuk naik, kalau kita sekarang sedang kalah, bersiaplah untuk menang, kalau kita sekarang sedang rugi, bersiaplah untuk untung, situasi akan selalu berubah, tidak ada yang kekal.

Sebenarnya dalam situasi sekarang ini yang disebut “situasi krisis”, bagi orang yang mengerti fenomena kehidupan, bukanlah sebuah krisis, tapi sebuah proses yang harus dihadapi. Setelah gelap, biasanya apa?? Timbullah terang. Setelah turun, biasanya apa?? Naik. Setelah “krisis”, biasanya apa??…..anda sudah tahukan jawabannya.

Nah sekarang, kalau kita sudah tahu, bahwa itu semua adalah sebuah fenomena kehidupan, yang kita harus hadapi. Kenapa mesti kuatir? Kenapa mesti strees, depresi?? bahkan ada yang sampai bunuh diri lho…..guuoblook buangeet deh. Dengan mengetahui ini adalah sebuah fenomena, sebuah hukum alam yang harus kita hadapi, kita sebenarnya harus selalu Sadar, “Aware”, “Eling” kalo orang Jawa bilang.

Dengan selalu meningkatkan kesadaran kita, “awareness” kita, kita tidak akan mudah diombang ambingkan oleh situasi yang terjadi dalam kehidupan. Kita tidak mudah terhanyut dalam euphoria kemenangan, maupun dalam kesedihan dan kekalahan sesaat. Karena pada waktu menghadapi sebuah situasi, kita selalu sadar, kita selalu tahu, bahwa “ahh ….inipun akan segera berlalu”

Jadi semua kuncinya ada dalam diri kita, bagaimana kita mau menghadapinya, bagaimana kita mau menyikapinya? Semua kuncinya ada di pikiran kita.

Salah seorang guru kehidupan saya mengatakan demikian “Kebahagiaan itu sebenarnya tidak ada…….nah lo……., yang ada hanyalah perasaan bahagia, senang itu tidak ada, yang ada adalah perasaan senang, susah itu tidak ada, yang ada adalah perasaan susah, krisis itu tidak ada, yang ada adalah …….perasaan krisis”. Kalau kita menganalisa pernyataan tersebut, perasaan itu adanya dimana sih? Didalam diri kita kan, diri kita siapa yang kontrol? Kita sendiri, pikiran kita sendiri. Jadi sebenarnya, mudahkan….., tinggal kita pilih saja cara kita berpikir dan merasa, mau berpikir dan merasa ini jaman krisis, susah, strees atau….. berpikir dan merasa inilah saatnya banyak peluang, semangat, senang, dll.

Seperti pepatah mengatakan “Hidup adalah pilihan” semuanya ada ditangan kita, tinggal kita yang menentukan. So….let’s choose our choice, and it’s all about to control our mind.